Matic: Aplikasi Karya Tiga Mahasiswa yang Membuat Kami Pelaku Travel Berdecak Kagum
Sebuah catatan jujur setelah kami diundang menghadiri pra-launching aplikasi Matic — dan sedikit pesan untuk dunia pendidikan kita.
Pada 16 Mei 2026, kami mendapat sebuah undangan yang awalnya kami kira biasa saja: menghadiri acara pra-launching sebuah aplikasi di Gedung Malang Creative Center (MCC), Kota Malang.
Sebagai pelaku usaha travel, kami sudah cukup sering mendengar janji-janji teknologi yang katanya akan “mengubah cara kerja”. Jadi kami datang dengan harapan yang biasa-biasa saja. Namun yang kami temukan di acara sosialisasi Matic sore itu benar-benar di luar dugaan.
Bukan hanya produknya yang membuat kami terkesan. Yang paling membekas justru sosok di baliknya: aplikasi sematang ini ternyata dibangun oleh tiga orang mahasiswa. Masih kuliah, tetapi punya kepekaan membaca masalah dan jiwa wirausaha yang, jujur saja, membuat kami para pelaku travel merasa “kok kami sendiri tidak kepikiran?”.
Sekilas tentang Matic
Yang kami tangkap sore itu sebenarnya sederhana. Matic adalah sistem yang membantu merapikan operasional usaha travel door-to-door — travel antar-jemput penumpang dari rumah ke rumah lintas kota. Pemilik travel cukup menghubungkan WhatsApp mereka, lalu sebuah AI yang membantu mengubah percakapan pelanggan menjadi catatan pemesanan yang rapi: nama penumpang, alamat jemput, tujuan, jadwal keberangkatan, hingga harga yang disepakati.
Pekerjaan administrasi yang biasanya memakan waktu berjam-jam — mencatat satu per satu di buku, spreadsheet, atau kertas — kini bisa berjalan nyaris tanpa diketik ulang. Tidak ada yang dipaksa belajar aplikasi rumit; cara kerja yang sudah dijalani bertahun-tahun tetap dihormati. Bagi yang ingin tahu lebih jauh, semuanya bisa dilihat langsung di situs resminya.
Kenapa Pendekatannya Terasa Berbeda
Selama ini banyak solusi teknologi datang dengan asumsi bahwa pelaku usaha harus mengubah cara kerja mereka agar sesuai dengan aplikasi. Padahal kenyataannya, kami para pemilik travel sudah punya pola kerja yang terbentuk bertahun-tahun.
Bisnis travel door-to-door punya kerumitan yang tidak bisa begitu saja diterjemahkan menjadi tombol “Pesan Sekarang”. Penumpang masih sering bernegosiasi harga. Tidak semua wilayah dalam satu kota bisa dilayani. Harga bisa berubah tergantung lokasi jemput, kondisi jalan, sampai ketersediaan armada. Ada banyak faktor manusiawi di dalamnya — dan itulah kenapa pemain besar seperti Traveloka atau Tiket.com tidak masuk ke ranah ini.
Yang membuat kami merenung: alih-alih memaksa kami berubah, pendekatan Matic justru membalik logikanya — tidak mengubah cara kami bekerja, hanya mempermudah pekerjaan yang sudah kami lakukan setiap hari. Sebuah cara berpikir yang, menurut kami, jarang dimiliki orang yang belum pernah benar-benar mendengarkan pelaku usahanya.
Kisah di Balik Matic — Diceritakan Langsung oleh Pendirinya
Karena penasaran, kami menyempatkan diri berbincang dengan Iola Sava, yang secara kebetulan adalah Direktur dari Matic. Berikut ringkasan cerita yang ia sampaikan kepada kami:
Matic dibangun oleh sekelompok mahasiswa yang sehari-harinya bekerja di Hexa Teknologi Kreasindo, sebuah perusahaan jasa pembuatan website dan aplikasi. Di Hexa, kami tidak hanya mengerjakan proyek klien, tetapi juga mendapat mentoring langsung tentang dunia bisnis: bagaimana membaca peluang, memahami perilaku pasar, menemukan masalah yang benar-benar dialami pelaku usaha, dan menerjemahkannya menjadi produk yang memberikan dampak nyata.
Dari mentoring itu, kami melihat satu peluang yang luput dari radar tech industry: bisnis travel door-to-door. Yang membuat kami tertarik bukan karena industrinya sedang tren — justru sebaliknya. Saat banyak startup berlomba membangun solusi untuk pasar yang sudah ramai, kami menemukan sebuah industri yang terus bergerak setiap hari tetapi hampir tidak pernah dibicarakan.
Jutaan perjalanan antar kota tetap terjadi setiap tahun melalui layanan travel door-to-door. Namun para pelaku usahanya masih mengelola operasional dengan cara yang hampir sama seperti bertahun-tahun lalu. Bagi banyak perusahaan teknologi, pasar ini dianggap terlalu rumit untuk didigitalisasi. Bagi kami, justru di situlah peluangnya.
Kami tidak memilih travel door-to-door karena ini pasar yang mudah. Kami memilihnya karena melihat masalah yang nyata, berulang setiap hari, dan dialami ribuan pelaku usaha di seluruh Indonesia. Kami tidak mencoba mengubah cara mereka bekerja — kami hanya mempermudah pekerjaan yang sudah mereka lakukan setiap hari.
Matic sendiri adalah UMKM yang dibangun oleh mahasiswa yang bekerja di UMKM lain, yaitu Hexa Teknologi Kreasindo. Jika Matic berhasil berkembang, yang ikut bertumbuh bukan hanya satu startup mahasiswa — ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan UMKM travel yang bisa merasakan manfaatnya. Satu UMKM membantu melahirkan UMKM baru, lalu UMKM baru itu membantu UMKM lainnya berkembang.
Kami masih kuliah. Kami masih belajar. Kami masih jatuh bangun membangun produk ini. Namun kami yakin pada satu hal: masalah yang kami coba selesaikan adalah masalah nyata yang dihadapi ribuan pelaku usaha setiap hari.
— Iola Sava Pendiri Matic · mahasiswa aktif & tim Hexa Teknologi KreasindoSatu hal yang ia tekankan dan membuat kami merenung: ide bisnis yang baik tidak harus menunggu wisuda. Bahkan saat ini Matic sudah resmi berbadan hukum PT Perorangan, sementara para pendirinya masih berstatus mahasiswa aktif.
Tiga Mahasiswa, Satu Visi Besar
Inilah bagian yang membuat kami benar-benar berdecak kagum. Di balik sistem serapi ini, hanya ada tiga anak muda yang masih duduk di bangku kuliah:
Tiga orang. Masih kuliah. Bekerja di sebuah UMKM digital, Hexa Teknologi Kreasindo, dan dari sana mereka justru melahirkan UMKM baru yang berpotensi membantu ribuan pelaku travel di seluruh Indonesia. Kami yang sudah lama berkecimpung di dunia travel saja tidak terpikir membangun sistem seperti ini.
Ini Bukan Kelas Mahasiswa, Ini Kelas Pebisnis
Ada satu hal lagi yang benar-benar membuat kami kagum, dan ini di luar soal aplikasinya. Coba bayangkan: mengumpulkan 50 pemilik travel dalam satu ruangan itu bukan perkara mudah. Kami yang sehari-hari berkecimpung di dunia ini saja tahu betul betapa sibuk dan susahnya menyatukan jadwal rekan-rekan seprofesi. Tetapi mereka berhasil menghadirkan puluhan pemilik travel sekaligus — lalu berdiri di depan dan mempresentasikan produknya di hadapan orang-orang yang jam terbangnya jauh lebih panjang. Dan ingat, yang berbicara di depan itu mahasiswa.
Lebih dari itu, mereka mengorganisir seluruh rangkaian kegiatan ini sendiri — mulai dari membangun aplikasinya, menyiapkan acara, menggarap promosi, sampai mengatur sisi keuangannya, semua mereka tangani sendiri. Di titik ini kami berhenti menganggap mereka sekadar “mahasiswa yang kebetulan punya proyek”. Ini bukan kelas mahasiswa. Ini sudah kelas pebisnis. Mereka benar-benar layak disebut entrepreneur.
Jujur saja: kami yang sudah lebih dulu menjadi pengusaha pun belum tentu berani mengambil risiko usaha sebesar ini. Membangun sistem, mengumpulkan pasar, sampai menggelar acara — itu semua jelas bukan modal kecil. Butuh keberanian, perhitungan, dan kenekatan yang terukur. Dan mereka melakukan semua itu sambil tetap menjalani kuliah.
Yang menarik, langkah mereka tidak luput dari perhatian publik. Perjalanan Matic terdokumentasi rapi di media sosial, bahkan tim ini sempat diwawancarai oleh Amazing Malang — dan tayangannya sudah disaksikan lebih dari 20 ribu pemirsa.
Sebuah Catatan Kecil untuk Dunia Pendidikan Kita
Izinkan kami menutup dengan satu catatan yang jujur. Di tengah kekaguman itu, ada secuil rasa prihatin. Anak-anak muda sebriliant ini — yang sudah berani mendirikan PT, membaca peluang pasar yang luput dari raksasa teknologi, dan membangun produk nyata sambil tetap kuliah — sepertinya belum cukup mendapat perhatian dan pendampingan dari lingkungan akademiknya.
Padahal, bukankah ini justru wajah ideal dari pendidikan yang kita cita-citakan? Mahasiswa yang tidak hanya pintar di kelas, tetapi mampu menerjemahkan ilmunya menjadi solusi yang berdampak bagi masyarakat. Talenta seperti ini tidak datang setiap hari — mungkin satu dari seribu. Akan sangat disayangkan bila mereka tumbuh sendirian tanpa dukungan yang layak mereka terima.
Harapan kami sederhana: semoga institusi pendidikan lebih jeli melihat, merangkul, dan menyokong mahasiswa-mahasiswa seperti mereka. Karena ketika kampus dan mahasiswanya saling mendukung, yang bertumbuh bukan cuma satu startup — tetapi ekosistem ekonomi daerah secara keseluruhan.
“Kadang, inovasi terbesar lahir bukan dari mereka yang punya paling banyak sumber daya, melainkan dari mereka yang paling peka mendengar masalah orang lain.”
Mau Pesan Travel Malang–Juanda?
Sebagai penyedia layanan travel Malang–Juanda, kami siap mengantar Anda dengan nyaman dan tepat waktu. Pesan perjalanan Anda langsung melalui website ini. Dan bila Anda seorang pelaku usaha travel yang ingin operasionalnya lebih rapi, Anda bisa berkenalan dengan Matic.