Gedung-gedung tua di sekitar Jembatan Merah kini jadi salah satu tujuan jalan-jalan paling ramai di Surabaya. Kota Lama Surabaya menyimpan jejak kota dagang kolonial sekaligus lokasi pertempuran 1945 yang mengubah sejarah Indonesia. Kenali dulu sejarah, ikon, dan cara menuju ke sana, supaya kunjungan Anda lebih dari sekadar foto di depan gedung tua.
Ringkasan cepat:
- Lokasi: sekitar Jembatan Merah dan Jalan Rajawali, Surabaya utara, tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak.
- Tiket: area luar gratis dan bisa dikunjungi kapan saja. Museum De Javasche Bank juga gratis, buka 08.00–16.00, Senin tutup.
- Waktu terbaik: pagi untuk museum, sore untuk foto, malam untuk lampu kawasan.
- Dari Malang: travel door to door ke Surabaya kota Rp170.000 per orang.
Apa Itu Kawasan Kota Lama Surabaya?
Kota Lama Surabaya adalah kawasan bersejarah di kedua sisi Sungai Kalimas yang ditata ulang Pemerintah Kota Surabaya menjadi tujuan wisata. Wali Kota Eri Cahyadi meresmikannya pada malam 3 Juli 2024 di Jalan Rajawali, lengkap dengan pertunjukan laser yang mengisahkan tewasnya Brigjen Mallaby. Kawasan ini dibagi ke dalam beberapa zona sesuai sejarah permukimannya.
- Zona Eropa: sisi barat Kalimas, dari Jembatan Merah sampai Jalan Rajawali, Garuda, Veteran, dan Kalimas. Zona inilah yang paling siap dikunjungi.
- Zona Pecinan: sisi timur sungai, berpusat di Jalan Kembang Jepun dan Klenteng Boen Bio.
- Zona Arab dan Melayu: sekitar Masjid Sunan Ampel. Penataannya dikerjakan bertahap, jadi cek kabar terbaru sebelum datang.
Area luar kawasan gratis dan terbuka sepanjang hari. Biaya baru muncul untuk atraksi tambahan. Saat peresmian, naik becak keliling dipatok Rp20.000, dan sewa motor listrik Rp20.000 per 25 menit.
Sejarah Kota Lama Surabaya
Kota Lama Surabaya tumbuh sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan Hindia Belanda di sekitar Jembatan Merah. Pada 1837, pemerintah kolonial membangun Benteng Prins Hendrik di kawasan ini. Benteng itu kemudian beralih fungsi menjadi penjara dan gudang amunisi sebelum dibongkar, dan bekasnya kini menjadi Kampung Benteng di Kelurahan Ujung.
Heerenstraat dan Handelstraat
Jalan Rajawali dulu bernama Heerenstraat atau "jalan para tuan", poros kantor dagang dan rumah orang Eropa. Setelah 1900-an, kegiatan dagang meluas ke timur sampai Jalan Kembang Jepun yang dulu bernama Handelstraat atau "jalan dagang". Banyak gedung kantor yang kini masih berdiri dibangun pada periode ini.
Wijkenstelsel: kota yang dibelah per etnis
Pembagian zona Kota Lama berakar dari wijkenstelsel, aturan kolonial tahun 1843 yang mewajibkan tiap kelompok etnis tinggal di kawasan tertentu. Orang Eropa menempati sisi barat Jembatan Merah. Orang Tionghoa, Arab, dan Melayu, yang oleh pemerintah kolonial disebut Vreemde Oosterlingen atau Timur Asing, ditempatkan di sisi timur. Jejak pembagian itu masih terasa dari gaya bangunan di kedua sisi sungai.
Jembatan Merah dan Peristiwa Oktober 1945
Jembatan Merah menjadi saksi salah satu peristiwa paling menentukan dalam revolusi kemerdekaan. Pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, komandan pasukan Inggris di Surabaya, tewas saat mobilnya meledak di dekat Gedung Internatio. Kematiannya memicu ultimatum Inggris dan Pertempuran 10 November 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Siapa pelaku dan penyebab pasti ledakan itu masih diperdebatkan sejarawan sampai sekarang. Berdiri di antara Jembatan Merah dan Gedung Internatio membantu Anda membayangkan betapa sempitnya ruang pertempuran saat itu. Kalau ingin melanjutkan napak tilas, Tugu Pahlawan bisa Anda masukkan ke daftar wisata Surabaya berikutnya.
Gedung Bersejarah di Kota Lama Surabaya
Zona Eropa memiliki gedung-gedung kolonial yang masih utuh dan sebagian besar masih dipakai sebagai kantor. Tabel berikut merangkum gedung yang paling sering dicari pengunjung beserta tahun dan fungsinya sekarang.
| Gedung | Dibangun | Cerita singkat | Kini |
|---|---|---|---|
| De Javasche Bank | 1904–1910 | Cabang Surabaya bank sirkulasi Hindia Belanda, dibuka sejak 1829 | Museum Bank Indonesia, gratis |
| Gedung Internatio | 1927–1931 | Karya arsitek Frans Ghijsels bergaya art deco, lokasi tewasnya Mallaby | Ikon foto kawasan |
| Gedung Cerutu | 1916 | Pernah dipakai Java Sugar Syndicate dan Bank Bumi Daya | Bank Mandiri |
| Gedung Singa | 1901 | Rancangan H.P. Berlage untuk perusahaan asuransi Algemeene | Dinikmati dari luar |
| Gedung Lindeteves | 1911–1913 | Bekas kantor perusahaan dagang Lindeteves | Bank Mandiri |
| Gereja Kepanjen | 1899–1900 | Onze Lieve Vrouwekerk, gereja Katolik era kolonial | Masih aktif untuk ibadah |
| Kantor Pos Kebon Rojo | 1928 | Kantor pos besar era kolonial | Pos Bloc, ruang kreatif |
Museum De Javasche Bank
Museum Bank Indonesia di Jalan Garuda 1 paling cocok jadi titik awal, karena interiornya terbuka untuk umum dan tersedia tur pemandu gratis. Masuknya gratis, buka pukul 08.00–16.00, dan tutup setiap Senin.
Taman Sejarah dan Jembatan Merah
Taman di sisi Jembatan Merah dulu bernama Willemsplein, lalu Taman Jayengrono, dan sejak 2012 disebut Taman Sejarah. Dari taman ini Anda bisa memotret Jembatan Merah dan Gedung Internatio dalam satu bingkai. Fotografer lepas di sekitar kawasan biasanya memasang tarif sekitar Rp3.000 per foto.
Zona Pecinan Kembang Jepun
Di seberang Kalimas, Jalan Kembang Jepun menjadi pusat Zona Pecinan dengan gapura merah yang mudah dikenali. Sejak September 2022, Pemkot Surabaya menghidupkan lagi tradisi kuliner malam di jalan ini dengan nama Kya-Kya Reborn, yang ramai stan makanan pada malam hari. Jadwalnya bisa berubah, jadi pastikan lewat akun resmi Pemkot Surabaya sebelum datang khusus untuk wisata kuliner.
Klenteng Boen Bio dan deretan gudang kayu tua di sekitarnya menunjukkan wajah lain Kota Lama yang lebih sederhana. Kalau ingin menjelajah lebih jauh ke utara, kawasan Masjid Sunan Ampel menjadi tujuan ziarah yang ramai dikunjungi peziarah dari Malang.
Kapan Waktu Terbaik ke Kota Lama Surabaya?
Waktu terbaik ke Kota Lama Surabaya bergantung pada tujuan Anda: pagi untuk masuk museum, sore untuk foto dengan cahaya lembut, dan malam untuk menikmati lampu serta video mapping di gedung-gedung tua. Kawasan paling ramai menjelang magrib, terutama malam Minggu.
- Hindari Senin kalau ingin masuk Museum De Javasche Bank.
- Datang sebelum pukul 10.00 untuk menghindari terik siang Surabaya saat berjalan kaki antargedung.
- Akhir pekan paling padat: kantong parkir sering penuh, dan antrean atraksi seperti jip wisata lebih panjang.
- Sisihkan 2–3 jam untuk Zona Eropa dengan berjalan kaki, belum termasuk Kembang Jepun.
Satu peringatan soal parkir: Dishub Surabaya hanya mengizinkan parkir di kantong parkir resmi. Kendaraan yang parkir di tepi jalan kawasan ini bisa digembok, dengan denda Rp250.000 untuk motor dan Rp450.000 untuk mobil.
Cara ke Kota Lama Surabaya dari Malang dan Juanda
Dari Malang, cara paling praktis adalah travel door to door ke Surabaya kota. Tarifnya Rp170.000 per orang dari Kota Malang dan Rp190.000 dari Kota Batu, sudah termasuk tol, dan Anda bisa diturunkan di dekat kawasan. Jadwal dan ketentuannya bisa dicek di jadwal travel Malang Surabaya. Kalau Anda ke Surabaya untuk menonton konser yang baru selesai malam hari, pilihan pulangnya berbeda; lihat jadwal konser Surabaya dan cara pulang ke Malang.
| Titik berangkat | Pilihan | Catatan |
|---|---|---|
| Kota Malang atau Batu | Travel door to door | Rp170.000 (Malang), Rp190.000 (Batu) |
| Kota Malang | Kereta ke Stasiun Surabaya Kota (Semut) | Lanjut jalan kaki sekitar 20 menit ke Jembatan Merah |
| Terminal Purabaya | Suroboyo Bus rute Purabaya–Rajawali | Lewat Jembatan Merah, tarif Rp5.000 |
| Bandara Juanda | Taksi atau ojek online | Sekitar 30–60 menit tergantung macet |
Suroboyo Bus menerima tarif pelajar dan mahasiswa Rp2.500, sedangkan lansia dan penyandang disabilitas gratis. Kawasan ini juga dekat dengan pelabuhan, jadi penumpang kapal yang menginap di hotel dekat Pelabuhan Tanjung Perak bisa mampir sebelum naik kapal.
Cukupkah waktu transit di Juanda?
Untuk penumpang transit, ke Kota Lama Surabaya baru masuk akal kalau jeda penerbangan Anda minimal 6 jam. Perjalanan pulang-pergi dari Juanda bisa makan 1,5–2 jam, jalan-jalan di Zona Eropa butuh 1,5–2 jam, dan Anda perlu kembali ke bandara paling lambat 2 jam sebelum terbang. Tidak ada Suroboyo Bus langsung dari Juanda, jadi andalkan taksi atau ojek online.
Hindari jam pulang kerja sore hari, karena macet di tol dan jalan kota bisa menggerus waktu transit. Kalau jeda Anda lebih pendek, pilihan yang lebih aman ada di itinerary transit Surabaya 3, 6, dan 12 jam.
Kesimpulan
Kota Lama Surabaya layak dikunjungi siapa saja yang ingin melihat Surabaya dari sisi sejarahnya. Pertama, Zona Eropa di sekitar Jembatan Merah menyimpan gedung kolonial yang masih utuh, dan Museum De Javasche Bank bisa dimasuki gratis. Kedua, kawasan ini adalah lokasi peristiwa 30 Oktober 1945 yang memicu Pertempuran 10 November. Ketiga, atur waktu kunjungan: pagi untuk museum, sore atau malam untuk suasana kawasan.
Dengan rencana seperti itu, satu hari di Surabaya terasa lebih bermakna, apalagi kalau dilanjutkan dengan mencicipi wisata kuliner Surabaya sebelum pulang ke Malang.
Ingin jalan-jalan ke Kota Lama Surabaya dari Malang atau Batu? Kirim tanggal berangkat, alamat jemput, dan jumlah penumpang, lalu admin akan mencarikan jadwal travel ke Surabaya kota.
Hubungi Admin lewat WhatsApp 0821-5111-5457